Nyeri didefinisikan oleh International Association for the Study of Pain (IASP) sebagai "suatu
pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, yang berhubungan dengan potensi
kerusakan jaringan atau kerusakan jaringan aktual yang sedang terjadi." Seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran, nyeri saat ini tidak hanya dianggap sebagai
gejala, namun sebagai entitas klinis yang memerlukan evaluasi dan penanganan khusus. Karena
pentingnya dalam mempengaruhi kualitas hidup pasien, kini parameter nyeri dianggap sebagai tanda
vital kelima setelah tekanan darah, nadi, laju pernapasan dan suhu tubuh. Nyeri kini dipahami sebagai
suatu keadaan yang bersifat kompleks, subjektif dan memerlukan penanganan dan kerjasama multi
disiplin yang melibatkan berbagai spesialisasi kedokteran, serta bukan hanya merupakan kewenangan
atau clinical privilidge satu spesialisasi kedokteran saja.
Nyeri merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering ditemui di fasilitas layanan
kesehatan, mulai dari fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama/primer sampai ke fasilitas layanan
kesehatan rujukan tingkat lanjut/sekunder-tersier, dengan angka kejadian yang tinggi di berbagai
kelompok usia. Tatalaksana nyeri yang tidak optimal dapat berdampak buruk pada kualitas hidup
pasien baik secara fisik maupun psikis, dan dalam skala yang lebih besar, nyeri tentu juga berdampak
secara kumulatif secara sosial dan ekonomi tidak hanya pada penderitanya namun juga pada orang
orang di sekitarnya, serta lebih luas pada biaya kesehatan dan anggaran kesehatan yang harus
ditanggung oleh negara.
Intervensi nyeri adalah salah satu modalitas tatalaksana nyeri yang relatif baru dan masih terus
berkembang, melengkapi tatalaksana nyeri konservatif dan operatif yang telah ada sebelumnya di
masyarakat. Pendekatan minimal invasif dengan panduan pencitraan radiologis ultrasonografi
memungkinkan untuk mengatasi target yang spesifik pada sumber nyeri serta struktur-struktur lain
yang berpengaruh pada nyeri, misalnya melalui prosedur injeksi pada saraf, blok saraf, radiofrekuensi,
neuromodulasi. Oleh karena hal tersebut, modalitas terapi intervensi nyeri memiliki beberapa
keunggulan dan melengkapi berbagai keterbatasan modalitas terapi nyeri lain yang sudah ada, seperti
isu efek samping dan ketergantungan obat maupun tatalaksana operatif yang dikenal cukup agresif dan
mahal. Dalam praktiknya, intervensi nyeri dilakukan oleh berbagai spesialisasi kedokteran
mempertegas pentingnya kolaborasi dan pemahaman inter-spesialis demi penanganan nyeri yang
optimal, lebih efektif dan rasional, serta berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien.
Sehubungan dengan hal tersebut, Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPP) Padjadjaran
Mitra Education Center (PARAMETER) yang telah Terakreditasi A oleh Kementrian Kesehatan
RI (Nomor Akreditasi: HK.02.02/F/3082/2024) bekerjasama dengan Comprehensive Course in
Musculoskeletal Pain Intervention and Regeneration Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran (PRECURSOR – FK UNPAD) dan RS PKU Muhammadiyah Temanggung, Jawa
Tengah akan mengadakan kegiatan:
“Webinar Interventional Pain Management across Medical Specialties: from Daily Practice to
Innovation”
yang akan diselenggarakan pada hari Minggu, 19 Oktober 2025, dengan materi:
