Perkembangan era digital menjadikan integrasi data yang rutin dan berkualitas menjadi suatu komponen penting dalam mewujudkan transformasi digital. Data yang terintegrasi serta sistem pelayanan kesehatan yang lebih sederhana merupakan salah satu aspek yang harus terus ditingkatkan untuk mencapai Indonesia Sehat. Proses integrasi data pelayanan kesehatan yang lebih sederhana, nyatanya memiliki banyak tantangan. Banyaknya aplikasi kesehatan yang terbangun oleh pemerintah pusat, daerah, maupun pihak swasta menjadi tantangan dalam menuju integrasi sistem data kesehatan. Aplikasi yang seharusnya memudahkan dan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan justru menimbulkan masalah baru, seperti tersebarnya data di berbagai aplikasi yang ada dan memiliki standar yang berbeda-beda sehingga tidak mudah diintegrasikan dan kurang bisa dimanfaatkan. Perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pelayanan kesehatan secara global, termasuk di Indonesia. Transformasi digital kesehatan (Digital Health Transformation) tidak hanya menjadi tren, tetapi juga menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan akses, kualitas, dan efisiensi layanan kesehatan masyarakat. Di tengah tantangan seperti disparitas akses kesehatan, keterbatasan sumber daya, dan meningkatnya beban penyakit, kolaborasi dan inovasi berbasis teknologi digital menjadi solusi strategis.
Tantangan utama dalam membangun data kesehatan nasional adalah lebih dari 80% fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini belum tersentuh teknologi digital, data yang terfragmentasi dan tersebar pada ratusan aplikasi sektor kesehatan yang bervariasi, serta keterbatasan regulasi dalam hal standardisasi dan pertukaran data. Layanan primer terdiri dari Puskesmas, klinik, dan dokter umum, serta layanan sekunder terdiri dari seluruh rumah sakit baik rumah sakit umum maupun rumah sakit khusus. Layanan primer dan sekunder berperan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan yang melayani sekitar 272 juta orang di seluruh Indonesia. Pemanfaatan teknologi informasi di bidang kesehatan sudah digunakan cukup luas, dari perencanaan kesehatan hingga menyediakan data kesehatan yang beragam baik pada tingkat individu maupun masyarakat Namun, dengan beragamnya fungsi dari aplikasi yang sudah ada, terjadi fragmentasi sistem informasi kesehatan dan data yang ada tidak dapat saling dipertukarkan.
Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan, World Health Organization (WHO) menyatakan pentingnya mengutamakan prinsip continuum of care dalam pelayanan kesehatan dimana Fasyankes melakukan pengamatan kesehatan pasien secara berkesinambungan (De Graft Johnson et al., 2006). Pengamatan pasien secara berkesinambungan dan komprehensif dapat membantu para tenaga kesehatan dalam mengevaluasi tata laksana kesehatan yang telah diberikan. Hasil evaluasi tata laksana yang baik dapat memudahkan komunikasi antar Fasyankes untuk melaksanakan rujukan dengan efektif dan efisien bila diperlukan. Kota Bandung, sebagai salah satu kota metropolitan dengan pertumbuhan teknologi yang pesat, memiliki potensi besar untuk memimpin transformasi digital kesehatan di tingkat lokal maupun nasional. Namun, upaya ini memerlukan sinergi antara tenaga kesehatan, ahli teknologi, pemerintah, dan sektor swasta. Pengurus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Kota Bandung merasa perlu untuk menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan edukasi serta shaing informasi melalui kegiatan Webinar. Webinar ini diselenggarakan sebagai langkah nyata untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan strategi dalam menghadapi tantangan dan peluang transformasi digital di bidang kesehatan masyarakat.
