Keracunan makanan akut pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih sering terjadi di Indonesia dan perlu menjadi perhatian penting bagi para tenaga kesehatan, khususnya dokter. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, setiap tahun masih tercatat berbagai kasus kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan yang melibatkan anak-anak, baik di lingkungan sekolah maupun rumah tangga.
Anak-anak termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap keracunan makanan akibat sistem imun yang belum sempurna, pola konsumsi jajanan yang tidak terkontrol, serta minimnya pengawasan dan pengetahuan tentang keamanan pangan. Kasus keracunan makanan dapat menimbulkan gejala seperti mual, muntah, diare, dehidrasi, gangguan elektrolit, hingga komplikasi berat yang berpotensi fatal apabila tidak segera ditangani dengan benar. Dalam banyak kasus di lapangan, dokter umum di fasilitas pelayanan kesehatan primer merupakan garda terdepan dalam melakukan penanganan awal terhadap anak dengan gejala keracunan makanan. Namun, masih terdapat variasi dalam kemampuan deteksi dini, stabilisasi pasien, serta langkahlangkah pencegahan Berbasis edukasi keluarga dan masyarakat.
Melalui kegiatan seminar kedokteran “Safe Kids, Safe Food: Peran Dokter dalam Mencegah dan Menangani Keracunan Makanan Akut pada Anak”, IDI Cabang Kabupaten Bandung Barat bekerja sama dengan LPP Parameter berupaya meningkatkan kompetensi klinis dan peran promotif-preventif. Kegiatan ini juga menjadi sarana pembaruan informasi ilmiah (update evidence-based medicine) dan penguatan jejaring antara dokter, dinas kesehatan, dan lembaga keamanan pangan untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.
